
Trotoar Rasuna Said menjadi sorotan seiring upaya penataan kawasan Kuningan yang tengah dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
Trotoar Rasuna Said menjadi sorotan seiring upaya penataan kawasan Kuningan yang tengah dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Jalur pedestrian di salah satu koridor bisnis utama Jakarta ini di nilai memiliki peran strategis karena menghubungkan berbagai moda transportasi publik, perkantoran, dan fasilitas umum. Namun, kondisi trotoar yang belum sepenuhnya tertata memunculkan tantangan tersendiri dalam mewujudkan ruang publik yang aman dan nyaman bagi pejalan kaki.
Trotoar sebagai ruang publik memiliki peran vital dalam mendukung mobilitas perkotaan, khususnya bagi pejalan kaki dan pengguna transportasi umum. Di Jakarta Selatan, kawasan Jalan HR Rasuna Said menjadi salah satu titik krusial yang kini berada dalam fase transisi penataan. Pembongkaran tiang monorel yang selama bertahun-tahun terbengkalai membuka peluang bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menata ulang wajah kawasan Kuningan, termasuk memperbaiki kualitas trotoar.
Namun di lapangan, kondisi trotoar Rasuna Said masih menunjukkan wajah yang belum sepenuhnya ramah bagi pejalan kaki. Permukaan yang tidak rata, sisa-sisa struktur tiang monorel, hingga utilitas bawah tanah yang menonjol menjadi pemandangan yang kerap di temui. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: sejauh mana penataan kawasan ini benar-benar berpihak pada keselamatan dan kenyamanan pedestrian?
Bekas Tiang Monorel dan Upaya Pemulihan Trotoar
Bekas Tiang Monorel dan Upaya Pemulihan Trotoar menjadi bagian penting dalam proses penataan kawasan Jalan HR Rasuna Said. Sisa-sisa infrastruktur proyek monorel yang mangkrak selama bertahun-tahun kini mulai di tangani agar tidak lagi mengganggu fungsi jalur pedestrian. Penanganan ini di harapkan mampu mengembalikan peran trotoar sebagai ruang aman dan nyaman bagi pejalan kaki, terutama di kawasan dengan mobilitas tinggi.
Di bawah jembatan penyeberangan orang (JPO) yang menghubungkan Halte Transjakarta dan Stasiun LRT Setiabudi, jejak proyek monorel yang mangkrak masih tampak jelas. Dua bekas tiang monorel berdiri sebagai saksi bisu proyek transportasi massal yang tak kunjung terwujud. Salah satu titik bekas tiang telah dibersihkan dan ditutup dengan lapisan pasir, kemudian dilapisi keramik agar dapat kembali di fungsikan sebagai trotoar.
Petugas Dinas Bina Marga yang ditemui di lokasi menjelaskan bahwa proses penutupan tidak bisa dilakukan sembarangan. Struktur besi yang tertanam di bawah permukaan harus terlebih dahulu ditimbun agar jalur pejalan kaki menjadi rata dan aman dilalui. Setelah itu, lapisan ubin dipasang agar menyatu dengan area pedestrian di sekitarnya.
Meski demikian, satu bekas tiang lainnya masih menyisakan persoalan. Besi-besi pendek tampak bengkok ke arah dalam, sementara bagian tengahnya di penuhi tumpukan batu dengan bentuk yang tidak beraturan. Kondisi ini jelas berpotensi membahayakan pejalan kaki, terutama pada malam hari atau saat hujan ketika visibilitas menurun.
Upaya pemulihan trotoar ini menjadi bagian dari penataan kawasan Kuningan yang lebih luas. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan seluruh area bekas tiang monorel dapat di kembalikan fungsinya sebagai ruang pedestrian, sejalan dengan konsep kota ramah pejalan kaki yang selama ini di gaungkan.
Wajah Tidak Merata Rasuna Said
Wajah Tidak Merata Rasuna Said mencerminkan kondisi jalur pedestrian yang belum terintegrasi secara menyeluruh. Penataan memang terlihat berhasil di beberapa titik. Namun perbedaan kualitas dan lebar trotoar masih dirasakan langsung oleh pejalan kaki, terutama di kawasan dengan aktivitas tinggi.
Secara visual, trotoar di sepanjang Jalan HR Rasuna Said menunjukkan perbaikan di sejumlah segmen. Pada beberapa bagian, trotoar tampak rapi dan cukup lebar. Material yang digunakan juga terlihat lebih baik dibandingkan sebelumnya. Meski demikian, kondisi tersebut tidak berlangsung secara konsisten.
Saat mendekati jembatan ke arah Jalan Kuningan Madya, lebar trotoar mulai berkurang. Permukaannya pun tidak lagi rata. Di beberapa titik, penutup saluran air terlihat menonjol ke atas. Situasi ini membuat pejalan kaki harus lebih berhati-hati agar tidak tersandung.
Pola serupa juga ditemukan di lokasi lain. Trotoar yang awalnya tertata rapi mendadak berubah menjadi sempit dan bergelombang. Ketika hujan turun, genangan air kerap muncul di permukaannya. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga meningkatkan risiko terpeleset.
Kondisi paling mencolok terlihat di depan Menara Palma, tepat di persimpangan dari arah Jalan Raya Casablanca. Bata yang sebelumnya tersusun di atas trotoar tampak pecah. Material tersebut kemudian digantikan dengan penutup saluran air. Di sisi lain, kabel berpelindung merah terlihat menyembul dari permukaan trotoar yang basah.
Penutup saluran air dengan berbagai label penyedia layanan berjajar di sepanjang trotoar. Label tersebut berasal dari perusahaan telekomunikasi hingga PLN. Kondisi ini terlihat hingga mendekati area SPBU Kuningan. Padatnya utilitas bawah tanah menunjukkan tantangan besar dalam menata trotoar agar tetap rata dan aman bagi pejalan kaki.
Utilitas Terbuka dan Risiko Keselamatan Pejalan Kaki
Utilitas Terbuka dan Risiko Keselamatan Pejalan Kaki menjadi persoalan serius yang masih di temukan di sepanjang trotoar Jalan HR Rasuna Said. Keberadaan berbagai infrastruktur pendukung yang tidak tertata rapi berpotensi mengganggu kenyamanan sekaligus membahayakan pengguna trotoar, terutama di kawasan dengan intensitas pejalan kaki yang tinggi.
Selain penutup saluran air, kabel dengan pelindung berwarna-warni juga tampak menyembul di beberapa bagian trotoar. Di ujung badan trotoar, kabel tersebut terlihat di tutup seadanya dengan lapisan semen yang mulai terkikis. Kondisi ini memperkuat kesan bahwa penataan belum di lakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Di sejumlah titik lainnya, bekas penutupan galian terlihat tidak rata dengan permukaan sekitar. Saat hujan turun, air mudah menggenang di atasnya, menciptakan jebakan tak kasat mata bagi pejalan kaki. Bagi pengguna disabilitas, lansia, atau anak-anak, kondisi ini tentu menjadi hambatan serius.
Trotoar seharusnya menjadi ruang aman dan inklusif. Namun dengan banyaknya utilitas yang tidak tertata rapi, fungsi tersebut belum sepenuhnya terwujud di Rasuna Said. Para pejalan kaki sering kali terpaksa berjalan lebih ke pinggir jalan, berdekatan dengan arus lalu lintas yang padat dan berisiko.
Kondisi ini menjadi ironi, mengingat kawasan Kuningan di kenal sebagai salah satu pusat bisnis Jakarta dengan tingkat mobilitas pejalan kaki yang tinggi. Ribuan pekerja perkantoran setiap hari melintasi trotoar ini untuk menuju halte bus, stasiun LRT, maupun gedung perkantoran.
Harapan Warga dan Tantangan Pengawasan Pasca Penataan
Harapan Warga dan Tantangan Pengawasan Pasca Penataan menjadi aspek penting dalam upaya pembenahan trotoar Rasuna Said. Selain menunggu hasil penataan fisik, masyarakat juga menaruh perhatian pada konsistensi pengawasan agar jalur pedestrian benar-benar di gunakan sesuai fungsinya dan tidak kembali di salahgunakan oleh pihak tertentu.
Warga sekitar menilai penataan ulang trotoar Rasuna Said memang sudah lama di butuhkan. Salah satunya Indah (40), yang mengaku setiap hari melintasi kawasan tersebut. Menurutnya, trotoar yang sempit dan sering becek membuat aktivitas berjalan kaki menjadi tidak nyaman.
Indah menyambut baik rencana perapian jalur pedestrian setelah pembongkaran tiang monorel rampung. Ia berharap fasilitas tersebut benar-benar dapat digunakan sesuai fungsinya sebagai lintasan pejalan kaki, bukan justru beralih fungsi ke aktivitas lain.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Di kawasan Plaza Festival, misalnya, trotoar yang sudah lebar dan tertata rapi kerap di manfaatkan sebagai tempat parkir ojek pangkalan maupun ojek online. Di belakang lift menuju JPO Rasuna Said, sejumlah sepeda motor terlihat terparkir di area trotoar, meskipun spanduk larangan parkir sudah terpasang.
Menurut Indah, tanpa pengawasan yang tegas, penataan fisik trotoar berpotensi sia-sia. “Kalau nanti sudah rapi tapi di pakai motor lagi, ya sama saja. Pejalan kaki tetap tidak nyaman,” ujarnya.
Penataan kawasan Jalan HR Rasuna Said sendiri akan terus berlanjut hingga seluruh 109 tiang monorel di sepanjang jalan tersebut selesai di bongkar. Pemerintah menargetkan proses pembongkaran rampung dalam waktu tiga bulan, dengan skema pengerjaan satu tiang setiap malam untuk meminimalkan gangguan lalu lintas.
Ke depan, tantangan terbesar dalam penataan kawasan ini tidak hanya terletak pada penyelesaian fisik semata, tetapi juga pada konsistensi pengelolaan serta pengawasan di lapangan. Tanpa komitmen yang berkelanjutan, berbagai upaya perbaikan berisiko tidak memberikan dampak jangka panjang dan fungsi jalur pedestrian sebagai ruang aman serta nyaman bagi masyarakat dapat kembali terabaikan di Trotoar.