Indonesia Dan Thailand Sepakati Kemitraan Strategis
Indonesia Dan Thailand, Perdana Menteri Thailand, Srettha Thavisin, dan Presiden Joko Widodo secara resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang menandai babak baru dalam hubungan bilateral kedua negara. Pertemuan yang berlangsung di Istana Merdeka ini menghasilkan komitmen untuk meningkatkan hubungan menjadi “Kemitraan Strategis” yang mencakup berbagai sektor, mulai dari perdagangan, investasi, keamanan, hingga pendidikan dan pariwisata.
Dalam sambutannya, Presiden Jokowi menekankan pentingnya sinergi antara Indonesia dan Thailand sebagai dua kekuatan ekonomi utama di Asia Tenggara. “Kita sepakat untuk mengedepankan kerja sama yang saling menguntungkan, memperkuat stabilitas kawasan, serta mendorong pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Kesepakatan ini merupakan hasil dari proses diplomatik yang telah berlangsung selama lebih dari dua tahun, terutama sejak kedua negara menyepakati kerangka kerja sama ekonomi bilateral pada KTT ASEAN 2023. Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas kawasan, khususnya di Laut China Selatan, serta menggarisbawahi peran ASEAN dalam menjaga keseimbangan geopolitik regional.
PM Srettha dalam pidatonya menyampaikan bahwa Thailand melihat Indonesia sebagai mitra kunci dalam memperluas jejaring perdagangan dan inovasi di kawasan. “Kemitraan strategis ini akan membawa peluang baru bagi pelaku usaha, sekaligus memperkuat solidaritas ASEAN di tengah dinamika global,” kata Srettha.
Selain penandatanganan nota kesepahaman, pertemuan tersebut juga disertai dengan dialog bisnis antara pengusaha kedua negara yang dihadiri oleh lebih dari 100 perwakilan industri. Forum ini menjadi wadah bagi pertukaran ide dan penjajakan proyek bersama, termasuk dalam bidang pertanian, teknologi, dan ekonomi digital.
Indonesia Dan Thailand dengan kerja sama ini juga mencerminkan kesamaan visi antara kedua negara dalam menyikapi tantangan global seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, dan transformasi digital. Indonesia dan Thailand bertekad memainkan peran aktif dalam mendorong ekonomi hijau dan memperkuat ketahanan kawasan terhadap krisis global.
Perdagangan Dan Investasi: Dorong Integrasi Ekonomi ASEAN
Perdagangan Dan Investasi: Dorong Integrasi Ekonomi ASEAN dalam kemitraan strategis antara Indonesia dan Thailand adalah penguatan kerja sama ekonomi, terutama dalam bidang perdagangan dan investasi. Dalam kesepakatan yang ditandatangani, kedua negara berkomitmen untuk meningkatkan volume perdagangan bilateral hingga USD 30 miliar pada 2030. Saat ini, angka perdagangan kedua negara berkisar di USD 20 miliar per tahun, dengan potensi pertumbuhan yang sangat besar.
Thailand merupakan mitra dagang terbesar kelima bagi Indonesia di kawasan Asia Tenggara, sementara Indonesia adalah tujuan utama ekspor barang-barang manufaktur Thailand, termasuk otomotif, petrokimia, dan produk makanan olahan. Di sisi lain, Indonesia mengekspor komoditas seperti batu bara, karet, dan kelapa sawit ke Thailand.
Pemerintah kedua negara juga sepakat menyederhanakan hambatan tarif dan non-tarif untuk mempermudah arus barang dan jasa. Hal ini melibatkan negosiasi ulang sejumlah perjanjian perdagangan bilateral yang mengacu pada standar ASEAN, serta inisiatif untuk mempercepat implementasi RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership).
Dari sektor investasi, Thailand menyatakan ketertarikan untuk memperluas kehadirannya di Indonesia, terutama di sektor energi terbarukan, teknologi pertanian, dan infrastruktur. Beberapa perusahaan besar seperti PTT Group dan Charoen Pokphand telah menyatakan niat untuk menanamkan modal baru di wilayah Kalimantan dan Sulawesi, sejalan dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan bahwa integrasi ekonomi Indonesia-Thailand dapat menjadi model bagi kawasan ASEAN dalam menghadapi ketidakpastian global. “Kita perlu membangun konektivitas yang lebih kuat, baik fisik maupun digital, agar integrasi pasar ASEAN benar-benar memberikan manfaat nyata,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan ini, kedua negara akan membentuk Komite Investasi Bilateral yang akan bertugas mengidentifikasi proyek-proyek strategis dan menyelesaikan hambatan regulasi. Komite ini juga akan memfasilitasi pertemuan tahunan antara investor kedua negara.
Dengan latar belakang demografi dan kekuatan industri yang saling melengkapi, kerja sama ekonomi Indonesia-Thailand diharapkan bisa meningkatkan daya saing kawasan di tengah gempuran produk Tiongkok dan ketidakpastian ekonomi global.
Kerja Sama Energi Dan Lingkungan: Dorong Transisi Energi Bersih Dari Indonesia Dan Thailand
Kerja Sama Energi Dan Lingkungan: Dorong Transisi Energi Bersih Dari Indonesia Dan Thailand menjadi agenda penting dalam pertemuan bilateral Indonesia dan Thailand. Kedua negara sepakat untuk memperkuat kerja sama dalam transisi energi bersih dan pengelolaan lingkungan hidup. Ini menjadi tonggak sejarah dalam upaya menciptakan kawasan ASEAN yang ramah lingkungan dan tahan terhadap krisis iklim.
Thailand, yang dikenal sebagai pelopor energi terbarukan di kawasan, menyatakan kesiapan untuk mentransfer teknologi dan keahlian kepada Indonesia, khususnya dalam pengembangan panel surya, kendaraan listrik, dan sistem penyimpanan energi. Di sisi lain, Indonesia menyampaikan komitmen untuk mempercepat program hilirisasi mineral sebagai bagian dari strategi ekonomi hijau.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia, Arifin Tasrif, menyampaikan bahwa kerja sama ini akan diwujudkan dalam bentuk proyek percontohan di Jawa Tengah dan Kalimantan Timur. “Kita akan mengembangkan ekosistem energi bersih bersama, termasuk pilot project PLTS hybrid dan pengolahan limbah biomassa,” ujarnya.
Kedua negara juga menyepakati pembentukan Green Energy Task Force yang akan. Menyusun peta jalan jangka panjang menuju net-zero emission pada 2060. Dalam forum tersebut, Thailand mengusulkan inisiatif pertukaran kredit karbon regional. Yang memungkinkan pelaku industri dari kedua negara untuk bekerja sama dalam proyek-proyek konservasi hutan dan pengurangan emisi.
Dalam hal konservasi, Indonesia dan Thailand menandatangani komitmen untuk perlindungan keanekaragaman. Hayati di wilayah pesisir dan laut, terutama di kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle). Kerja sama ini akan di fokuskan pada riset bersama, pertukaran data. Dan patroli maritim gabungan untuk melindungi ekosistem laut dari penangkapan ikan ilegal.
Kesepakatan ini mendapat sambutan positif dari organisasi lingkungan di kedua negara. Greenpeace Asia Tenggara menyatakan bahwa langkah ini menunjukkan keseriusan ASEAN dalam mengatasi krisis iklim secara kolektif. “Kolaborasi Indonesia-Thailand bisa menjadi pelopor solusi energi bersih di Asia,” ujar Juru Bicara Greenpeace Thailand.
Diplomasi Budaya Dan Pendidikan: Pererat Hubungan Masyarakat Antarbangsa
Diplomasi Budaya Dan Pendidikan: Pererat Hubungan Masyarakat Antarbangsa, kemitraan strategis Indonesia dan Thailand. Juga mencakup kerja sama sosial dan budaya, sebagai fondasi penting dalam memperkuat hubungan masyarakat kedua negara. Dalam pertemuan bilateral, kedua pemimpin sepakat untuk meningkatkan pertukaran pelajar, dosen, seniman, dan tenaga profesional melalui berbagai program resmi.
Thailand dan Indonesia akan meluncurkan program beasiswa bersama yang memungkinkan pelajar dari kedua negara menempuh pendidikan tinggi di universitas terkemuka. Fokus utamanya adalah bidang teknologi, agrikultur, pariwisata, serta studi ASEAN. Kedua negara juga berkomitmen memperluas penggunaan bahasa masing-masing dalam pendidikan dan pariwisata.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia menyatakan bahwa akan segera membuka Pusat Studi Bahasa. Dan Budaya Indonesia di Bangkok, dan Thailand juga akan membuka Thai Cultural Center di Jakarta. Fasilitas ini akan menjadi tempat promosi budaya, pelatihan bahasa, dan penyelenggaraan festival seni bersama.
Di bidang pariwisata, Indonesia dan Thailand akan bekerja sama dalam promosi destinasi lintas negara. Melalui skema “ASEAN Tourism Corridor”, wisatawan mancanegara dapat menjelajahi kedua negara. Dalam satu paket perjalanan, misalnya menggabungkan wisata budaya di Yogyakarta dan Chiang Mai. Kerja sama ini di dukung oleh sektor penerbangan dengan peningkatan rute langsung dan promosi tiket terintegrasi.
Selain itu, kedua negara juga memperkuat kerja sama di bidang olahraga dan industri kreatif. Festival film ASEAN yang akan di gelar di Bangkok pada akhir 2025 di rencanakan menampilkan sejumlah karya. Kolaboratif dari sineas muda Indonesia dan Thailand.
Kementerian Luar Negeri menekankan bahwa pendekatan soft diplomacy melalui pertukaran budaya dan pendidikan adalah. Investasi jangka panjang yang akan memperkuat hubungan antarmasyarakat dan menciptakan pemahaman lintas budaya yang lebih baik.
Dengan berbagai inisiatif tersebut, Indonesia dan Thailand berharap bisa menciptakan hubungan bilateral yang tidak hanya kuat. Di tingkat pemerintahan, tetapi juga tumbuh dan hidup di tengah masyarakatnya dengan Indonesia Dan Thailand.