Banjir Rendam Kendal, Pantura Brangsong Jadi Parkir Darurat

Banjir Kembali Melanda Kabupaten Kendal dan Mengganggu Aktivitas Warga di Sejumlah Wilayah Pesisir Utara Jawa Tengah

Banjir Kembali Melanda Kabupaten Kendal dan Mengganggu Aktivitas Warga di Sejumlah Wilayah Pesisir Utara Jawa Tengah. Curah hujan tinggi yang berlangsung lama membuat debit sungai meningkat drastis, hingga akhirnya air meluap ke kawasan permukiman dan fasilitas umum.

Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Kendal selama berjam-jam pada Kamis (15/1/2026) sore hingga malam mengakibatkan Banjir di sejumlah kawasan. Luapan Kali Waridin menjadi penyebab utama air meluber ke permukiman warga, jalan lingkungan, hingga lahan pertanian. Sedikitnya lima kecamatan terdampak dalam peristiwa ini, dengan kondisi terparah terjadi di Kecamatan Brangsong dan Kaliwungu.

Air bah datang secara perlahan namun terus meningkat seiring tingginya intensitas hujan. Warga yang bermukim di sekitar aliran sungai harus berjibaku menyelamatkan barang-barang berharga sebelum genangan semakin meninggi. Meski banjir kali ini tidak sebesar kejadian beberapa tahun lalu, dampaknya tetap terasa bagi aktivitas dan kenyamanan masyarakat.

Air Meluap Saat Malam Hari

Air Meluap Saat Malam Hari menjadi situasi yang paling di khawatirkan warga, karena datang di saat aktivitas rumah tangga mulai berakhir dan sebagian masyarakat sudah beristirahat. Kondisi gelap serta hujan yang masih turun membuat banyak warga tidak menyadari peningkatan debit air hingga genangan mulai memasuki area permukiman.

Banjir mulai dirasakan warga sejak menjelang malam. Di Desa Kebonadem, Kecamatan Brangsong, air perlahan masuk ke halaman rumah dan jalan permukiman setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut hampir lima jam tanpa henti. Ketinggian air di dalam rumah warga rata-rata mencapai mata kaki, sementara di jalan lingkungan bisa mendekati lutut orang dewasa.

Sejumlah warga mengaku panik karena air datang pada waktu yang tidak terduga. Banyak yang baru menyadari bahaya ketika genangan sudah menutup akses keluar rumah. Kondisi gelap dan hujan yang belum reda membuat proses evakuasi barang menjadi semakin sulit.

Warga berupaya memindahkan dokumen penting, perabot rumah tangga, dan barang elektronik ke tempat yang lebih tinggi. Namun, tidak semua barang bisa di selamatkan. Beberapa warga terpaksa membiarkan kendaraan bermotor terendam karena khawatir mesin rusak jika dipindahkan saat air masih tinggi.

Meski demikian, berangsur surutnya air pada Jumat siang memberi sedikit kelegaan. Aktivitas bersih-bersih pun di lakukan secara gotong royong, baik di dalam rumah maupun di lingkungan sekitar.

Sisa banjir menyisakan lumpur dan tumpukan sampah di sejumlah titik, terutama di selokan dan jembatan desa, sehingga membutuhkan penanganan segera agar tidak memicu genangan lanjutan. Warga bersama perangkat desa mulai membersihkan lingkungan secara swadaya, sembari berharap cuaca membaik dan tidak turun hujan susulan yang berpotensi memperparah kondisi pascabanjir.

Jalan Pantura Brangsong

Jalan Pantura Brangsong menjadi titik perhatian saat banjir melanda wilayah sekitarnya. Akses jalan nasional tersebut berperan sebagai jalur vital sekaligus lokasi darurat bagi warga untuk mengamankan kendaraan dari genangan yang meluas ke permukiman.

Dampak banjir tidak hanya di rasakan di kawasan permukiman, tetapi juga menjalar hingga akses jalan utama. Tepian Jalan Pantura di wilayah Brangsong sempat di padati kendaraan warga yang mencari lokasi aman dari genangan air.

Motor dan mobil di parkir berjajar di pinggir jalan nasional tersebut karena di anggap lebih tinggi dan bebas banjir. Kondisi ini menjadikan Jalan Pantura Brangsong sebagai parkir darurat sementara bagi warga terdampak.

Meski tidak menimbulkan kemacetan parah, situasi tersebut membuat arus lalu lintas melambat. Aparat kepolisian terlihat mengatur kendaraan agar tetap berjalan lancar dan tidak membahayakan pengguna jalan lainnya.

Fenomena ini mencerminkan keterbatasan ruang evakuasi kendaraan di wilayah rawan banjir. Setiap kali air meluap, warga kerap mengandalkan jalan utama sebagai lokasi penyelamatan kendaraan, meski berisiko mengganggu aktivitas lalu lintas.

Kondisi tersebut menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah terkait perlunya penyediaan titik evakuasi kendaraan yang lebih aman dan terorganisasi. Tanpa lokasi khusus, penggunaan jalan nasional sebagai area parkir darurat berpotensi menimbulkan risiko keselamatan dan menghambat mobilitas, terutama jika banjir terjadi bersamaan dengan meningkatnya volume kendaraan lintas daerah.

Lima Kecamatan Terdampak Banjir

Lima Kecamatan Terdampak Banjir menjadi catatan utama dalam peristiwa ini, seiring meluasnya genangan air ke berbagai wilayah di Kabupaten Kendal. Dampak yang di rasakan tidak hanya terbatas pada satu kawasan, melainkan menyebar ke sejumlah kecamatan dengan tingkat kerawanan dan kondisi yang berbeda-beda.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kendal mencatat banjir melanda lima kecamatan, yakni Kendal Kota, Brangsong, Pegandon, Ngampel, dan Kaliwungu. Total terdapat 19 desa dan kelurahan yang terdampak, dengan tingkat genangan yang bervariasi.

Desa Kebonadem di Kecamatan Brangsong serta Desa Kumpulrejo di Kecamatan Kaliwungu menjadi wilayah dengan dampak paling signifikan. Ratusan rumah warga tergenang, sementara sejumlah jalan desa tidak dapat di lalui selama beberapa jam.

Selain permukiman, banjir juga merendam sawah dan lahan pertanian. Petani mengkhawatirkan dampak jangka panjang terhadap tanaman, terutama jika hujan kembali turun dalam beberapa hari ke depan.

BPBD Kendal menyebut penyebab utama banjir adalah luapan Kali Waridin yang tidak mampu menampung debit air akibat curah hujan tinggi. Hingga Jumat sore, genangan masih tersisa di beberapa wilayah, meski kondisinya mulai berangsur surut.

Petugas BPBD bersama unsur kecamatan dan pemerintah desa masih melakukan pemantauan rutin di sejumlah titik terdampak banjir. Pendataan kerusakan dan dampak yang di timbulkan terus di perbarui secara berkala. Di sisi lain, pembersihan saluran air serta jembatan dari tumpukan sampah mulai di lakukan sebagai langkah antisipasi agar genangan tidak kembali terjadi. Masyarakat juga di imbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, mengingat potensi hujan dengan intensitas tinggi masih di perkirakan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.

Belum Tanggap Darurat, Warga Andalkan Solidaritas Lokal

Belum Tanggap Darurat, Warga Andalkan Solidaritas Lokal menjadi gambaran penanganan banjir di Kendal saat ini. Di tengah belum ditetapkannya status darurat oleh pemerintah daerah, peran masyarakat dan perangkat desa menjadi penopang utama dalam membantu warga terdampak menghadapi situasi tersebut.

Meski berdampak cukup luas, BPBD Kendal belum menetapkan status tanggap darurat bencana. Hasil kajian sementara menyebutkan bahwa banjir tersebut belum mengganggu kehidupan dan penghidupan warga secara signifikan. Tidak ada laporan pengungsian massal, dan sebagian besar warga memilih bertahan di rumah masing-masing.

Namun demikian, kepedulian sosial tetap terlihat di tingkat desa. Dua dapur umum di dirikan secara swadaya oleh pemerintah desa bersama PKK, masing-masing di Desa Sumberrejo, Kecamatan Kaliwungu, dan Desa Karangmulyo, Kecamatan Pegandon.

Dapur umum ini di fungsikan untuk membantu warga yang terdampak, khususnya kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak. Bantuan makanan menjadi bentuk solidaritas lokal yang sangat membantu di tengah kondisi darurat.

Peristiwa banjir ini kembali menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sungai dan sistem drainase yang memadai. Tanpa upaya penanganan jangka panjang, wilayah Kendal berpotensi terus menghadapi banjir musiman setiap kali hujan deras melanda. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci untuk mengurangi risiko bencana di masa mendatang.

Ke depan, di perlukan langkah antisipatif yang lebih terukur, mulai dari normalisasi sungai, perbaikan tanggul, hingga peningkatan kesiapsiagaan masyarakat berbasis wilayah rawan. Tanpa pembenahan menyeluruh dan komitmen berkelanjutan, kejadian serupa berpotensi terus berulang dan menempatkan warga dalam siklus kerentanan yang sama setiap musim hujan datang membawa Banjir.